Some Story of Some Story (2)
Well hello people, setelah 2 hari skip
nulis akhirnya aku ada juga niatan untuk ngelanjutin lagi cerita yang pengen ku
tulis ini. Yaps, jika kalian membaca ini namun belum melihat bab sebelumnya
mungkin kalian akan sedikit bingung dengan arah ceritanya. Jadi silahkan cek
postingan sebelumnya, yah minimal baca 1-2 paragraf lah biar ga bingung ini
cerita tentang apa, ku beri kalian waktu 5 detik, hem lupa ternyata aku bukan
youtuber. Yasudah, semoga betah membaca sampai akhir.
******************************************************************************
Setelah kejadian kelam yang kuceritakan di
bab lalu, aku terus merasakan perasaaan yang membuat jengkel, sedih namun takt
ahu harus berbuat apa. Trying suicidal?
I did, but gaada hasil sama sekali
malah bikin diri merasa tambah tolol. Someday I trying buat ceritain masalah
ini ke orang yang ku kenal, orang yang bisa mengerti masalah perempuan. Well, kalian tidak salah dengar, aku
ingin sharing kepada seseorang yang mengerti masalah peremupuan agar aku bisa
tau apa alasan sebenarnya sang ex
memilih untuk melakukan hal itu. Apa aku yang kurang positif atau malah terlalu
posesif? Jadilah aku menceritakan nya kepada MJ. Yaps, she is MJ tapi bukan Marry
Jane nya Peter Parker, ehe, she is better than her. She give me so many advice
yang membuat ku mulai berfikir dua kali untuk larut dalam sedih. “Bagaimana
caranya bahagia, sedangkan aku baru saja mengalami hal yang tak sesuai
ekspektasi ku dan itu sangat menyedihkan” aku ngotot mengatakan bahwa saat ini
mungkin aku tak bisa meraih bahagia. “Lingkaran bahagia mu sesempit itu? Hanya
dengan pacar kah? Kita yang menciptakan lingkaran bahagia kita sendiri”
balasnya. Anjir, setelah membaca
kata- kata itu aku jadi diam dan tak membalas pesan nya beberapa saat. Kata-
kata itu benar- benar membuka fikiran, walaupun kelihatan nya siapa pun bisa
mengatakan nya tapi nyata nya hanya dia yang saat itu mengatakan itu padauk,
dan kebetulan kata- kata itulah yang kubutuhkan. Aku tidak butuh “sabar yah”,
aku juga tidak butuh “lupakan saja, banyak yang lebih baik”, apalagi “nikahin
aja ibunya” sungguh aku tidak butuh kata- kata menyebalkan itu.
Beberapa hari berlalu dan mencurahkan
fikiran kepada MJ sudah merupakan rutinitas bagiku, chat ku dengannya kupenuhi
dengan keluhan yang mengganjal di kepala ku. And she is a good listener, tidak
menyalahkan namun juga tidak membenarkan. Suatu saat bahkan dia mengatakan
kalua hubungan ku sebelunya itu kekanak- kanakan, benar benar tega mengatakan
itu kepada orang yang sedang berada dalam tekanan. Namun, terkadang manusia
butuh di-jujur-in agar bisa tahu apa
kesalahan nya, bukan hanya terus dibela dan membuat kita merasa benar tanpa
merasa salah sedikitpun. Menurut pribahasa yang mainstream sih “jujurlah walau itu menyakitkan”, yah terkadang itu
benar, namun tidak setiap saat, hanya saat seperti ini kejujuran sangat
dibutuhkan. Someday MJ menyarankan untuk membaca sebuah buku “Sebuah Seni Untuk
Bersikap Bodo Amat” yang ditulis oleh seorang Blogger terkenal, kalua aku tak
salah ingat nama nya Mark Manson. Awal nya I don’t give a shit karena kebetulan
malas membaca dan mual saat melihat terlalu banyak huruf adalah kutukan bagiku,
tapi pada akhirnya ku juga tertarik untuk membaca buku itu karena tidak ada
kegiatan lain yang bisa kulakukan untuk menghibur diri, selain bermain PUBG
maksudku aku buth kegiatan lain. Akhirnya aku mulai mencari buku itu dan tidak
butuh waktu lama untuk memiliki nya karena reputasi buku itu yang sangat
popular pada masa itu. Begitulah hari- hari ku dimulai, aku mulai memasuki masa
recovery dari kejadian yang baru saja
ku alami. Perlahan tapi pasti aku mulai lupa pada masalahku, namun belum
sepenuhnya, masih ada rasa kesal yang tersisa karena telah di khianati dan juga
rasa sesal karena tak bisa mengkhianati. Yah, tak usah munafik lah, saat di
khianati semua orang akan menyesal kenapa tidak mengkhianati lebih dulu.
Liburan tersisa beberapa hari lagi, dengan
perasaan sesal dan kesal aku akan memasuki semester kedua dalam perjalanan ku
di kampus merah. Tidak bergairah rasanya untuk kembali di bangku kuliah, aku
akan menyaksikan semua orang yang bahagia karena alasan mereka masing- masing
sedangkan aku tidak bisa seperti mereka. Aku belum menemukan lingkaran bahagia
ku yang diaktakan MJ. Aku bahkan malas
melihat senyum dari wajah orang- orang, begitu mudah mereka berbagi tawa,
kenapa aku tidak bisa seperti mereka?
Masalah sebelumnya benar- benar membebani ku, aku menjadi malas untuk
bersosialisasi dengan orang- orang disekitarku, aku tak peduli mereka
menyebutku sombong atau apa. Yah, aku diam karena benar- benar taka da hal yang
ingin kubicarakan. Aku selalu menertawakan orang yang putus cinta hingga
melakukan suicidal namun kini aku
mengerti seperti apa rasa yang mereka alami, orang- orang yang ku tertawakan
dahulu. Kelas pertama sudah dimulai, dengan mata kuliah yang sudah tidak asing
bagiku karena telah mendengarnya dari mulut ke mulut saat semester lalu,
genetika. Awalnya kuduga didalam kelas ini yang kujumpai hanya orang- orang
membosakan yang hidupnya begitu serius atau orang yang berisik dan lebay saat bercerita tentang orang lain,
aku benci tipikal orang seperti itu, sungguh. Syukurlah perkiraan ku meleset,
saat memasuki ruang kelas aku bertemu beberapa teman ku saat di semester lalu,
tak usah ku sebutkan Namanya, jika kalian membaca ini kuucapkan juga
terimakasih pada kalian. Mereka sangat berisik dengan jokes receh mereka, namun justru itu yang membuatku melupakan
masalah ku saat bersama mereka. Setelah kelas genetika mencapai akhir waktu,
kami pun pergi Bersama untuk mencari makan, saat itu aku sungguh lupa akan
masalahku.
Keesokan harinya, pada hari selasa aku
datang ke kampus kembali dengan suasana hati yang masih malas untuk bicara
dengan siapa- siapa, berharap dapat sekelas lagi dengan mereka- mereka.
Untungnya kali ini tebakan ku tidak lagi meleset, aku benar- benar sekelas dengan
mereka di matakuliah agronomi. Canda tawa kami terus melesat memenuhi kelas,
aku bahkan tak peduli jika ada orang yang kesal pada kami karena terlalu
berisik, kami terus melantunkan jokes receh kami dan saling menghibur satu sama
lain. Hal pertama yang harus dilakukan saat dosen pertama kali masuk pun sudah
di depan mata, pemilihan ketua kelas. Spontan teman- teman sialakan ku
mengajukan ku secara sepihak untuk menjadi ketua kelas. Tatapan orang- orang
yang ragu terhadap ku pun mulai kurasakan. Hawa panas yang membuatku
berkeringat juga mendadak hilang karena dinginnya tatapan dan prasangka buruk
dari orang- orang yang skeptic terhadapku. Well,
aku memang orang yang tak terlalu famous
di lingkungan kampus. Akhirnya kutunjukkan penolakan mentahku untuk diberi
jabatan ketua kelas, karena di lain sisi aku juga yakin bahwa ketua kelas
hanyalah babu untuk teman- teman nya.
Namun, sekeras aku menolak, semakin keras juga teman- teman semester satu ku
mengajukan ku secara sepihak untuk menjadi ketua kelas hingga dosen pun
mengangkat ku menjadi ketua kelas secara sepihak dan aku terpaksa menerima nya
dengan mengabaikan tatapan dingin dan sikap skeptis orang lain padaku. Toh,
mungkin aku bisa menjadi babu yang
baik untuk mereka kedepannya.
Hari demi hari pun kujalani dengan
intensitas kesibukan yang semakin tinggi hingga membuat masalahku tak lagi ku pikirkan.
Senyum- senyum yang dulu kubenci juga kini mulai terlihat manis dan memancing
untung tersenyum juga, bahkan tatapan dingin dan praduga buruk yang di
lancarkan oleh teman- teman kelas ku saat pemilihan ketua kelas pun mulai
hilang dan sepertinya mulai tergantikan oleh sikap positif dan kepercayaam.
Yah, semoga menjadi babu tidak
terlalu buruk, karena setahu ku menjadi babu
dari sebuah kelas matakuliah haruslah memili koneksi yang kuat dengan senior sedangkan
bagiku itu adalah hal yang paling sulit ku lakukan, aku tidak suka bergaul
degan para senior- senior gondrong itu.
Mereka terlihat bar- bar di mataku, suka memerintah dan mengibuli saat masa-
masa maba, karena itulah aku cukup menjaga jarak dengan mereka. Sedikit demi
sedikit senyum ku yang awalnya privasi kini ku buka akses nya untuk publik, yah
siapapun bisa melihat senyum ku lagi, ehe. Cukup senang rasa nya bisa kembali
ke sosial dengan perasaan yang bahagia serta semangat yang menggebu- gebu untuk
mengawali semester kedua ini. Semangat yang berasal dari rasa sakit yang kualami
tepatnya. Aku mulai sadar bahwa harus bersikap bodoamat pada sesuatu buruk yang sedang menimpa kita, namunm aku
mengartikan bodoamat itu bukan berarti
menghindari rasa sakit itu tapi menerima nya dan menghadapi nya dengan tenang tanpa
rasa takut. Karena itu aku bahkan sudah bisa menertawai diriku yang di khianati
dan bisa berdamai dengan diriku sendiri. Terimakasih teman- teman sudah
membuatku bisa berdamai dengan masalahku espicially MJ. Without her I even
never understand myself, dan terimakasih sudah medeklarasikan diri sebagai
temanku saat aku bilang tak punya teman yang benar- benar teman.
******************************************************************************
That’s how I survived dari masalah “besar”
yang menghadang ku. I am here because all of my friend. Orang- orang hebat yang
senantiasa berbagi senyum padaku yang bukan siapa- siapa mereka. Isi dari bab
ini mungkin tak menarik dan bahkan membosankan untuk dibaca awalu aku sudah
menulis ribuan kata. Namun bagi kalian yang sudah membaca sejauh ini kuucapkan
terimakasih karena telah rela membaca tulisan membosankan ini. Mungkin di bab
selanjutnya aku akan menceritakan tentang berjalannya semester kedua ku tanpa
membahasa lagi masalah putus cinta yang telah ku alami, karena telah rampung
dalam bab ini, yah, semoga aku masih punya niat untuk membagikannya, walau aku
tahu tak seorang pun yang menunggu nya. Hanya kujadikan sebagai media untuk
menyimpan kisah ku.
Komentar
Posting Komentar