Some Story of Some Story

Well hello Internet, hello cyber world, and hello people.  Sebelum kalian baca cerita ini, kuperingatkan sekali lagi bahwa aku bukanlah seorang penulis yang handal, bahkan kaidah penulisan pun masih banyak luput dari perhatian ku. Begitupula dengan alasan ku menulis cerita ini. Ini kutulis untuk menghargai mereka yang telah terlibat di dalamnya, orang- orang luar biasa yang aku anggap sebagai teman yang sebenarnya, yah, mungkin, hmm, sepertinya begitu. 

Saat cerita ini ditulis semua orang yang se almamater denganku sedang menikmati liburan panjang mereka. Membuang semua lesu, membentang harapan baru, dan tersenyum bahagia tanpa rasa ragu. Yah, sungguh liburan yang indah, dimana kekosongan akan terus menghantui kami 3 bulan lamanya. Namun, siapa peduli dengan libur panjang ini? Yang luar biasa menurutku adalah peristiwa- peristiwa yang mengantarkanku pada libur yang masih berada di kuartal pertama ini. Yap, ini adalah kisahku selama menjalani semester kedua di kampus dan akan kuceritakan pada kalian semua.

*********************************************************************************

Semester kedua sebagai mahasiswa baru, setelah libur berkepanjangan melanda kami di bulan desember, akhirnya kami dapat kembali merasakan bangku perkuliahan di bulan januari. Semester yang menjadi akhir dari tahun pertama ku di kampus ini dibuka dengan berbagai masalah. Orang lain mungkin kembali ke bangku kuliah dengan perasaan yang senang karena bisa bertemu teman- teman mereka yang lainnya, atau mungkin karena dibelikan tas dan sepatu baru oleh orang tua nya, yah orang- orang bahagia pada umumnya, namun tidak denganku. Masalahku bukannya berasal dari teman- teman ku atauapun sepatu dan tas ku yang sudah lapuk namun tak dibelikan yang baru oleh orang tua ku. Namun seperti remaja pada umumnya, masalahku datang dari naif nya kisah cinta ku yang telah kujalani dari 6 bulan sebelumnya.

Malam tahun baru, dimana bunyi petasan dan terompet menghantui telingaku, uh ingin marah rasanya, saat aku ingin tenang- tenang nya duduk dan menikmati sebotol sprite sambil bermain PUBG, kenapa mereka semua begitu berisik? Semua kata- kata kotor sudah tersimulasi di kepala ku. Setelah sekian lama memaki dalam fikiran dan membuat ku mulai tidak mood untuk bermain PUBG lagi, aku mulai memeriksa pesan- pesan di WhatsApp ku. Tiba- tiba pandangan ku tertaut pada pesan yang ku pin agar selalu menempati posisi ter atas di beranda ku. "Kita putus, aku tidak tahan lagi harus berbohong pada orang tuaku" tulisnya. What? Seketika aku merasa sedang di prank olehnya. Yah, kata- kata seperti itu biasanya hanya ada di sinteron cinta- cintaan yang alay, fikirku. Ah, palingan hanya prank, toh selama ini kami adem- adem saja dan jarang kok bertengkar. Aku mulai mengingat apakah ini hari ulang tahunku atau bukan dan ternyata ulang tahunku sudah lewat sebulan lalu. Aku mulai memeriksa kalender, apakah ini hari ulang tahun nya atau bukan, ternyata ulang tahunnya masih 4 bulan lagi. Aku pun tetap positive thinking, "Ah palingan ini prank text untuk konten youtube dia, biar dapat adsense" kata ku. Namun, aku mulai panik saat ingat dia bahkan tidak punya channel Youtube. Oh fuck, apakah dia serius?

Aku tidak dapat lagi berbaik sangka setelah semua fikiran negative ku akhirnya terbantahkan saat dia mengirim pesan selanjutnya “Ini serius, aku tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku”. Anjir, fikirku. “Jadi bagaimana, apa tidak ada pilihan yang lebih bijak?” kataku memelas, aku masih berusaha agar tidak terlihat pasrah, siapa tahu ini hanyalah test yang dia lakukan untukku. Aku berusaha ngeles dengan sejuta alas an yang menjijikkan jika kuingat lagi sekarang “ Tapi aku butuh penyemangat di semester kedua, aku butuh orang yang bisa mencipta senyum ku di kala senja” kataku berusaha merangkai kata- kata indah, mungkin saja bisa membuat dia luluh. Namun, dia tetap bersikeras ingin melakukan keputusannya. Usaha memelasku sudah mencapai batas maksimal, aku juga tahu dia adalah tipe orang yang tak susa untuk di desak mengambil keputusan yang tidak dia inginkan. Yasudah, fikirku. Mungkin inilah akhir dari semuanya yang telah kami jalani selama satu semester. Yah sebagai lelaki normal yang bucin, aku sedih dong. Kuceritakan semua kepada teman- teman squad PUBG ku yang kebetulan menjadi tempat pamer ku saat aku masih aktif- aktifnya sebagai pemuda bucin yang tiap hari nongkrong di bioskop atau berduaan di café, yah gaya pacaran kami sangatlah hedon dan menyesakkan bagi pasangan- pasangan “miskin” yang melihat kami. Saat kuceritakan mereka hanya tertawa, sewajarnya teman- teman yang bangsat mereka hanya menertawakanku dan menyuruhku untuk sabar, ah hanya sebuah nasihat yang klasik, keluh ku dalam hati. Mereka bahkan tidak membantu ku sama sekali, “Pacarin aja ibunya” kata seorang temanku. Yah, aku tahu dia berusaha menghibur, tapi demi palu Mjolnir, jokes itu tidak lucu sama sekali.

Seminggu berlalu setelah kami menapaki jalan masing- masing. Dia mem- blokir ku di WhatsApp, entah apa alasannya. “Mungkin dia susah move on” fikiriku. Yah, terkadang ketika kita merasa susah untuk move on pilihan terakhir adalah unfollow akun mantan, agar feed nya tidak muncul lagi di beranda. Aku tahu, itu hanya simulasi yang dilakukan otakku agar membuat hatiku senang dan mengira dia masih membutuhkan ku hingga suatu saat akan mengajak ku balikan lagi karena tidak tahan setelah berpisah denganku. “Akan ku terror mentalnya” fikirku. Segera ku DM dia di Instagram, “ Bisa minta 1 kesempatan lagi?” pinta ku sambal mengirim emoticon sialan yang sok- sok sedih, megharap dia iba, yah walaupun kini aku cringe saat mengingat hal itu. “Aku sudah menemukan orang lain yang bisa membuatku tersenyum” balasnya secepat Quicksilver. “Hahahaha, berusaha membohongi diri sendiri yah? Well, kita lihat sampai mana kau bisa bertahan” gumamku. Segera ku baca pesan nya, dan tak kubalas lagi, seakan akan menunjukkan ekspresi cuek padanya. 

Aku sangat senang bisa menteror mentalnya, dan perlahan membuat dia gagal move on dari ku, hingga keesokan harinya aku sedang iseng- iseng melihat InstaStory dari orang- orang yang aku follow di IG. Mataku tertuju pada suatu bulatan yang merupakan InstaStory darinya, “Ah, palingan kata- kata tentang patah hati” fikirku sangat yakin. Segera ku klik bulatan itu untuk meyakinkan, dan akhirnya mata ku terfokus kepada sesosok laki laki yang berdiri disebelahnya, dengan kumis yang mirip dengan Howard Potts, “Hmm, dia tak mirip dengan sepupunya yah” fikirku. Keesokan paginya, dia nge-post lagi sebuah InstaStory yang barisikan foto sepupunya dengan sebuah teks kecil “ I Love You More Than Pizza”. What? Aku mulai sadar kalau itu bukan sepupunya. Ku balas InstaStory itu dan mempertanyakan sepupunya, namun dia membalas pesanku dengan “Itu pacarku” katanya dengan mudah seakan tidak berbuat kesalahan apa- apa. Aku masih ingat alasan nya ingin berpisah dariku, “ Karena tak diizinkan orang tua dan tak ingin lagi membohongi orang tua lagi” katanya. Tapi saat ini kuliat di InstaStory nya ada seorang laki laki yang membawa alat selam dengan caption “ I Love You More Than Pizza”, dengan sticker pizza yang bergoyang- goyang, “ah, kenapa sticker itu harus ada disana” aku semakin kesal saja. Sebagai lelaki normal aku baru sadar, selama ini aku yang gagal move on darinya. Yah kalian bisa bilang aku berlebihan atau apapun celaan orang lain, bucin, lemah, alay, saat itu aku bahkan tak peduli terhadap semua itu. 

Aku merasa sangat depresi, sakit hati yang awal nya tak kurasakan, entah kenapa kini kurasakan dengan intensitas yang berlebihan dan diluar nalar manusia. Aku bahkan menangis seperti anak kecil yang meminta mainan gundam ke orang tuanya namun tak di dituruti. Aku menangis seperti seorang wanita yang baru saja di php- in oleh gebetannya, i am even trying to kill myself (this is serious part of this whole story, I really do it) but the God don’t want to let me die for some stupid reason. Walau terdengar sangat menjijikkan, aku tak yakin kalian akan merasakan perasaan yang berbeda saat berada di posisi yang sama denganku, merasa gagal dan terkhianati, merasa rendah sebagai laki- laki dan merasa tak punya harga diri karena sudah dibodohi. Hingga kisah ini kuceritakan, aku sudah tidak merasakan perasaan itu lagi, perasaan sakit yang kurasakan dan menghantui ku setiap malam hari hilang begitu saja.

 Yah, “something” yang membuatku struggle dari “bencana” yang baru saja kuhadapi mungkin akan kuceritakan di bab selanjutnya, haha, walaupun aku tak yakin kalian peduli atau tidak, namun “something” itulah yang merupakan inti dari cerita yang ku tulis ini. Ini bukan hanya sekedar kisah cinta remaja alay ataupun cerita cinta- cintaan yang klasik yang endingnya sudah pasaran, ini adalah kisah tentang second semester, dan bab ini hanyalah sebagai pembuka. 

Komentar

  1. Mantap gan... Lanjutkan karyanya #bw

    BalasHapus
  2. Mantul bang ceritanya

    Btw Kpan2 ajarin saya buat cerita dong

    Semoga Blog abang semakin baik untuk kedepannya

    BalasHapus
  3. Lanjutkan ceritanya gan, di buat bersambung juga asyik

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siti Nursilmi Isnaeni Effendy

Last Vegas, Cerita Fiksi yang Membawa Kita Menuju Kota Fantasi yang Fantastis

Bumi Manusia